Tag Archives: Universitas Indonesia

Dari Depok ke London: Kisah Lulus Telat dan (InsyaAllah) Langsung S2


Dream, fight forward, and live passionately.

Indah bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada keluarga, teman-teman, dan semua pihak yang selalu mendoakan dan mendukung Indah selama ini. Semoga keluarga dan teman-teman selalu dilancarkan segala jalan hidupnya, dan cita-citanya pun tercapai. Amin..

From Depok to London, from Universitas Indonesia to University College London
From Depok to London, from Universitas Indonesia to University College London

Berawal dari semangat untuk lanjut S2 di luar negeri tahun 2015, Indah sempat kecewa berat (dan guling-guling di kasur :P) karena saat Juni 2014 disarankan untuk menunda sidang skripsi karena memang risetnya belum siap. Tentunya banyak hikmah dibalik lulus telat itu, termasuk merenungkan kembali makna kehidupan. Tapi yang buat ketar-ketir adalah apakah masih sempat mengejar pendaftaran S2 untuk tahun 2015 ketika Februari 2015 baru wisuda?

Hasil survey sana-sini dapat kesimpulan bahwa pendaftaran S2 umumnya adalah November-Februari/Maret setiap tahun untuk intake September. So, I put myself on a high bar. Untuk mengejar timeline itu, Indah HARUS sudah lulus bulan November untuk bisa mengejar pendaftaran S2. Oktober sidang skripsi, dan Alhamdulillah lulus!

Universitas Mana?

Untuk proses ini, Indah banyak dibantu oleh pembimbing, guru, sekaligus mentor, Indah, Mba Suzie Sudarman, M.A. Ini pertimbangan Indah saat diskusi mengenai universitas:

  • Lokasi : Kota besar di English-speaking country (biar ga susah belajar bahasa lagi :P)
  • Jurusan : Pembangunan Internasional, yang berbasis ekonomi-politik-sosial (ga semua jurusan Pembangunan, orientasinya Politik, ada yang orientasinya lebih ke Ekonomi atau Antropologi-Sosiologi)
  • Lainnya : Top 200 University QS World University Ranking (I don’t judge university by ranking, tapi biar termasuk daftar universitas beasiswa LPDP)

Gimana cara daftar S2 di luar negeri?

Setelah tahu jurusan dan universitas apa yang dituju, baru deh kita siapkan pendaftaran dan berkas-berkas yang diperlukan. Setiap universitas mungkin punya standar yang berbeda, silakan cek di website di bagian admission universitas tersebut, tetapi ini intinya:

  • Statement of Purpose (Isinya tentang rencana studi, riset apa yang akan dilakukan, mengapa memilih universitas/jurusan/program tersebut)
  • Reference Letter/Letter of Recommendation (biasanya perlu dua dari dosen yang kenal baik rekam jejak akademik kita di kampus. Contoh: dosen pembimbing, Ketua Jurusan, Dekan, ataupun salah satunya dapat dari atasan tempat bekerja jika sudah bekerja.
  • IELTS/TOEFL iBT (sertifikasi bahasa Inggris. Untuk daftar di Inggris dan negara persemakmuran, seperti Singapura dan Australia, biasanya mensyaratkan IELTS dengan skor overall minimal 6.5; TOEFL iBT biasanya untuk ke U.S. atau yang lainnya dengan skor minimum 92. Sebagian program mensyaratkan skor lebih tinggi, cek lagi syarat di jurusan tersebut yah).
  • Academic Transcript (kalau sudah lulus, pakai transkrip akhir, kalau belum lulus bisa menggunakan semacam Daftar Nilai Sementara dari universitas asal).
  • Admission Fee (Biaya pendaftaran yang dibayar online dengan kartu kredit. Bisa ada ataupun tidak, harganya pun beragam, siapkan dana kira-kira 50-100 USD untuk satu universitas).

Cek lagi semua syarat umum dan khusus di universitas tujuan, serta batas akhir pendaftaran dan kapan pengumumannya 🙂

Akhirnya Indah daftar ke tiga universitas di bulan Januari: Carleton University (Kanada), University of Sussex (UK), dan University College London (UK). Pengumuman diterima sekitar bulan Februari  untuk Sussex dan UCL, Alhamdulillah yeay! Pas banget waktunya wisuda 4,5 tahun 🙂

Wisuda UI Februari 2014 bersama keluarga dan sahabat
Wisuda UI Februari 2014 bersama keluarga dan sahabat

Maret baru punya ijazah dan transkrip S1, barulah bisa daftar beasiswa LPDP!

Beasiswa LPDP What and Why

Pertama kali denger beasiswa LPDP pas di UI Career and Scholarship Expo tahun 2013, langsung “panas”, tambah semangat karena ada satu lagi program beasiswa yang men-cover semua biaya kuliah dan biaya hidup untuk program Master dan Doktoral dalam dan luar negeri. Apalagi, LPDP bercita-cita untuk “mewujudkan cita-cita anak bangsa untuk kepemimpinan esok hari”. Suatu kebijakan yang mulia dari pemerintah Indonesia.

Alhamdulillah..setelah tes administrasi dan wawancara bulan Maret, April sudah ada pengumuman lolos! :’)

Ini dia yang ditanggung beasiswa LPDP:

  • biaya pendaftaran universitas
  • matrikulasi
  • SPP (tuition fee)
  • tunjangan buku
  • seminar internasional
  • tesis/diserasi (penelitian dan ujian)
  • publikasi jurnal internasional
  • keadaan darurat
  • transportasi
  • asuransi kesehatan
  • visa (untuk penempatan luar negeri)
  • hidup bulanan (living allowance)
  • tunjangan keluarga
  • biaya kedatangan (settlement allowance)
  • insentif peringkat universitas

Indah akan tulis lebih lengkap tentang beasiswa LPDP ini di postingan selanjutnya.

Setelah ikut tahap terakhir dari seleksi beasiswa ini, yaitu Pelatihan Kepemimpinan, Indah semakin mantap dengan misi LPDP untuk menjadi pemimpin masa depan Indonesia 🙂

Saat Pelatihan Kepemimpinan LPDP, diberi penghargaan untuk "Resume Kunjungan Tokoh Terbaik" oleh Direktur Utama LPDP, Pak Eko Prasetyo.
Saat Pelatihan Kepemimpinan LPDP, diberi penghargaan untuk “Resume Kunjungan Tokoh Terbaik” oleh Direktur Utama LPDP, Pak Eko Prasetyo.

Indah insyaAllah Indah akan berangkat ke London bulan September 2014 untuk studi MSc Development Administration and Planning di University College London selama setahun! Indah masih ngurus-ngurus visa, mohon doanya agar semuanya lancar! Amin..

Indonesian Gifted Researchers by Australian National University


On February 2nd-7th (just before my Graduation Day! Yeay!), I was invited to participate at the ANU-Indonesia Gifted Researchers Program. It was joint initiative of Australian National University with several universities in Indonesia: Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Katolik Parahyangan, and Universitas Gadjah Mada. After a tight selection at International Office of Universitas Indonesia, I was nominated to represent Universitas Indonesia to participate at this program, along with other 11 undergraduate students from Faculty of Social and Political Sciences and Faculty of Humanities.

Researchers with Prof. Hal Hill and Prof. Jenny Gordon
Researchers with Prof. Hal Hill and Prof. Jenny Gordon

The theme of 2014 program was “Research, Critical Thinking, and Indonesia’s Emergence as an Economic and Strategic Power”. It says,

It aims to stimulate Indonesian brightest young minds and scholars to realize and examine Indonesia’s ambition as one of the top-ten economies in the world and a major regional power in international affairs.

The program was full-packed with research-activities, conducted at Novotel Golf Resort and Convention Center Bogor. Talking about feeding mind and soul, eh? So fun!

ANU-Indonesia Gifted Researchers Program
ANU-Indonesia Gifted Researchers Program

To discuss this thought-provoking subject, prominent Indonesia and Australian scholars presented their key research progress and findings on many issues, such as Indonesia’s economic outlook, challenges to its university and research sectors, social and political development, media and culture, as well as research method’s and ethics.

Here are the a bit of “precious” talents we are lucky to have at the program!

  • H. W. Arndt Professor Hal Hill,  not only a prominent expert on ASEAN Economics, but also an adviser to Indonesia’s Minister of Foreign Affairs and Minister of Tourism and Creative Economy;
  • Professor Brian Schmidt, whose startling discovery on the acceleration of the expansion rate of the Universe earned him Nobel Prize Winner on Physics;
  • Associate Professor Greg Fealy, a specialist in Indonesian Islam, transnational Islamist movements, and also the academic convener of the program!;
  • Ed Aspinall, a specialist on the politics of Southeast Asia, especially Indonesia, and a fluent Indonesian speaker.

    Indah Gilang Pusparani at the ANU-Indonesia Gifted Researchers Program
    Indah Gilang Pusparani at the ANU-Indonesia Gifted Researchers Program

 

I am so much happy and blessed to be part of this program. Unlike any other program, the ANU-Indonesia Gifted Researchers Program allowed participants to not only listen and discuss with the speakers during the lecture series, but also to interact with them in a very casual manner outside the classrooms. Most of the speakers stayed with us during the whole week, so that we had a precious opportunity to consult, talk, or even share our experiences with them during many opportunities, such as Twilight Talk, Lunch, and Dinner, and so forth.

With Brian Schmidt (Nobel Prize Winner) and Greg Fealy (Academic Convenver)
With Brian Schmidt (Nobel Prize Winner) and Greg Fealy (Academic Convenver)

In a group of 10-11 people, we are also facilitated by an academic and a peer mentor, who is a senior undergraduate student at ANU. At the end of the week, we deliver a group presentation in relations to the program’s theme “Indonesia’s Rise”. As usual, Indonesians are very creative of course, the so-called “presentation”, turned out to be very touching and inspiring performances, in forms of short videos, orations, and satirical dramatic productions. All of the performance underlined a substantial lesson learned from the entire week discussion and also our proposed solutions for Indonesia’s future development.

In the end of the program, we also had the opportunity to attend the gala dinner hosted by Vice Chancellor of the ANU, Prof. Ian Young, with featured speaker Dr. Bima Arya Sugiarto, Mayor-Elect of Bogor. He shared that his Ph.D. research and study at the ANU most inspired his speeches and policy as a political leader. At last, Professor Andrew McIntyre, Dean of ANU College of Asia and the Pacific, delivered a very heart-warming closing remark, stating that we were all welcomed as the ANU Alumni family. Each and every one of us was presented with a certificate of completion as if we were graduated from the ANU. For me personally, it was the second graduation certificate I earned that week since I was also graduated from Universitas Indonesia, with the highest GPA and best thesis in the International Relations Department.

So-called "Batik Boys", academics goes craaazzzyyy at the Gala Dinner
So-called “Batik Boys”, academics goes craaazzzyyy at the Gala Dinner

If we looked back to what we expected on the first day we started the program, the ANU-Indonesia Gifted Researchers Program was beyond remarkable. We were equipped with the strong research foundation, we built networks with the most prominent and inspiring academics and youths, and we had pledged to contribute what we learned from this program for the better Indonesia and beyond.

Oh yeah, if you are interested to join the next year’s program, watch out the announcement in this web:

 

Sidang Skripsi 7 Hari Lagi! Any tips?


Sidang skripsi 7 hari lagi!

Akhirnya skripsi Indah selesai juga dan siap untuk sidang akhir. Awalnya ga nyangka juga bisa dalam keadaan deg-degan nunggu sidang. Selama satu semester kemarin, yang dipikirin cuma: ini bisa engga selesain skripsi?  Hahaha..

judul skripsi Indah buat sidang tanggal 28 Oktober 2013
judul skripsi Indah buat sidang tanggal 28 Oktober 2013

Perjalanan membuat skripsi ini banyak jatuh bangunnya. Apalagi sekarang kalau semuanya lancar, Indah akan di wisuda tanggal 8 Februari 2014 (meskipun sidangnya di tengah semester, bukan di akhir), tepat 4,5 tahun dari pertama kali Indah menginjakkan kaki di Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Indonesia.

Ini karena Indah baru bisa mulai buat skripsi di semester 8. Sebagian karena waktu semester 5 Indah sempat ikut dua kali pertukaran pelajar ke A.S. dan Singapura. Sebagian lagi Indah harus akuin kesulitan untuk bisa mensintesis hasil penelitian dengan pendekatan yang jarang sekali dipakai di HI sekarang. Maksudnya pembimbing, Indah harus bisa menulis kasus yang sama sekali baru, dan analisis yang sangat tidak biasa. Jadilah, ketika teman-teman seangkatan sidang bulan Juni-Juli lalu, Indah belum bisa.

You know how it feels when you think you’re left behind. Sempet sangat down juga. Indah pikir, dengan semua perjuangan belajar dan prestasi selama kuliah, kenapa sulit banget untuk lulus?

So I took two months off during July-August. Kembali ke rumah di Cirebon, menyibukkan diri dengan kegiatan keluarga dan kembali ke alam. Rasanya dari situ Indah bisa memikirkan kembali jalan hidup ini. Hikmahnya, Indah memang harus belajar lebih banyak dan berdedikasi lebih banyak dengan tulisan Indah supaya kalau Indah yakin dengan jalan Indah untuk fokus di bidang akademik dan riset, Indah punya karya tulis yang masterpiece. Juga, Indah “diberi waktu” untuk mempersiapkan lebih baik untuk melangkah ke tahap kehidupan selanjutnya: melanjutkan kuliah S2 di luar negeri, kerja, penelitian, ataupun “hal yang lebih pribadi”. You know what 🙂 

Kembali ke alam, main di sawah bersama adik
Kembali ke alam, main di sawah bersama adik di Garut

 

Ternyata liburan itu ada manfaatnya juga. You can take a distance with your writing, so you can comeback with a critical judgement on you own work. It works 🙂 Ketika awal September kembali buka laptop dan baca skripsi sendiri, akhirnya tahu kalau saran dan kritik dari pembimbing itu memang benar adanya.

So, this is it! Indah akan membedah dan mempertahankan skripsi Indah yang berjudul “Kebijakan Global Amerika Serikat dalam Trans-Pacific Partnership (2009)” pada tanggal 28 Oktober 2013 nanti di depan empat penguji. Kalau ada yang baru dengar tentang Trans-Pacific Partnership (TPP), singkatnya itu inisiatif untuk kerjasama ekonomi dan perdagangan di kawasan Pasifik. Long story, dan banyak perdebatannya juga. Makannya skripsinya menarik dan cukup provokatif. Hehehe..

Ada tips untuk persiapan sidang skripsinya? Tulis di kotak komentar yah!