Tag Archives: study abroad

Life in A Suitcase: Reverse Culture Shock (and Tips!)

After years of living overseas and international trips, I never anticipate myself to experience a culture shock when I return to Indonesia. A month prior to and several months upon my arrival in Indonesia were very difficult time for me, physically and emotionally. The feeling of excitement, sadness, longing, alienation, frustation, optimism, rejection, dissapointment was just bottled up and I could not express it without the fear of being called arrogant or not nationalistic… (and it exploded in a bad way).

Then I talked to some of comrades in several alumni projects and gatherings, and read articles about “Reverse Culture Shock”, and finally I can figure out what’s going on with me, how to cope with it, and that I am not alone.

Reverse Culture Shock / Coming Home Syndrome

Desa Cigadog, Kabupaten Garut. Credit to Intan W. Anugrah

Most resources (find some links below) say that reverse culture shock or coming home syndrome is experienced when returning to a place that one expects to be home but actually is no longer. It is more difficult to manage than outbound shock precisely because it is unexpected and unanticipated. Shaffira D. Gayatri, one of my best friend, alumni of University of Warwick in World Literature, had once showed me her work on the diaspora coming home, and their unique challenges and experiences in a place they called “home”.

Reverse culture shock is not uncommon among overseas students, diaspora, or employee from international assignments. Even in International Organizations and companies, they have trainings for the returnee and the family to help them adjust to the new environment.

My Experience: Redefining Home

I lived in Cirebon for 18 years and moved out to Depok for college. I can say it is my home town. Then, I spent 5 weeks in Muncie, Indiana, U.S. Then, I moved to Singapore for half a year, and I know all the SMRT lines like the back of my hand. Then I moved again to London for a full year with two-week overseas field work in Ethiopia and two digit trips to countries in Europe. And I feel like I know some place better than the other, even better than my “home town”.

London Southbank. credit to Nina Asterina

I miss every bits of mundane life in London like going to aisles of supermarket, navigating the best exit at the Kings Cross Station, or just sitting down at the less-beaten corner by the River Thames. I can look at the 100-year-old map of London, brushing to major tube lines, street and landmarks, and pinpoint the location of my previous flat, UCL, or the best location to pick up a plate of Rendang in Brick Lane, Whitechapel. Even I finally can relate to Adele’s “Hometown Glory” which basically is about London..

So no wonder why, no matter I miss “home” and all my beloved, I could not stop crying in my 16-flight from London-Amsterdam-Jakarta, which caused me major headache and jet lag, which I could not recover until 3 months later.

So back to the question, what is my home? Why home coming is really difficult?

I love Indonesia and values it upholds. Back in the UK, I wrote my dissertation about Indonesia’s housing policy, I contribute articles about overseas Indonesia for Good News from Indonesia. I make the best of my effort to make Indonesia proud.

However, coming home with a set of new eyes, assertiveness, and personalities, I felt like my idealized notion of Indonesia as my home country is somehow betrayed, and my new self did not feel quite fit. Both I, my friends, my family misunderstood each other. All of us have changed, even the environment has changed, over the time when I am not at home. We thought we can pick up where we left off, but the fact is we have to start over…to everything and accept that we all have changed.

How to Cope with Reverse Culture Shock

I could not say I finish coping with this, but I want to share things that help me go through this, which may be helpful to you:


  • Connect with fellow returnee. It is easier to share express what you are undergoing with people with shared experiences. It can be through whatsapp chats, meet ups, aumni gatherings, or alumni projects. Ask for support, get inspired by their ways in dealing with culture shock, and just laugh over our confusing life 😀
  • Do not punish yourself for not being “accepted”. Blaming yourself for broken friendships and romantic relationships or being rejected by several jobs application upon our return is unhealthy and even make us question our decision to go at the first place. Remember times in the past we dreamt and fought to have this experience, remember the bittersweet things we have been through, and…
  • Accept your new lifestyle. Being flexible is something that help us adapt overseas, it also applies back home. I keep subscribing to British youtuber, eating less rice, and being critical and outspoken about (almost) anything. Just be yourself.
  • Express your voice. I find it really hard to express my thought and feelings with the fear of being called arrogant or snobby (even when I cannot say things in Bahasa Indonesia! like this 😀 ), because of which I experienced some trust issues. But not every person on this earth thinks that way, there will be people who will support us with open ears and honest interest. I share things in this blog, instagram, and occasional Facebook post…and was overwhelmed by how much people can relate to what I have been through.

More please!

For additional support and resources, you can check some interesting articles and podcasts regarding reverse culture shock:

If you find this article helpful, please share! Thank you, Cheers 😀


Tanya Jawab Daftar S2 di Luar Negeri

Gimana caranya daftar S2 di luar negeri? Apa aja persyaratannya?

Hai guys, setelah Indah sharing tentang pengalaman daftar S2 di luar negeri, banyak yang bertanya via Facebook message atau vwhatsapp. Pertanyaannya kebetulan banyak yang mirip-mirip. Jadi di artikel ini Indah akan buat semacam Frequently Asked Question (FAQ) yang isinya tanya jawab pertanyaan-pertanyaan umum seputar daftar S2 ke luar negeri. Artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman teman-teman yang sama-sama akan kuliah di luar negeri, seperti A.S., Belanda, Australia, Jepang, dll. Meskipun terbatas, mudah-mudah bantu jawab pertanyaan-pertanyaan kalian ya!

 Kapan waktu pendaftaraan S2 di luar negeri?

Untuk perkuliahan yang dimulai bulan Agustus/September, biasanya masa pendaftaran dimulai bulan November-Maret. Nyamannya kita daftar secepatnya karena kita bisa dapat result secepatnya dari universitas apakah kita diterima atau engga. Kelebihannya: 1) kampus tujuan bisa cepat me-review aplikasi kita, yang artinya kita bisa dapat result dari aplikasi kita lebih cepat, 2) kita bisa bisa move on ke persiapan selanjutnya, misalnyamedical check up dan terjemahin dokumen-dokumen untuk daftar visa.

 Dokumen apa saja yang harus disiapkan untuk daftar S2 di luar negeri?

  • transkrip dan ijazah S1 yang sudah diterjemahkan oleh penerjemah tersumpah
  • hasil tes TOEFL/IELTS. Untuk di negara Persemakmuran Inggris (misalnya di Inggris, Kanada, Australia, Singapura, Selandia Baru, IELTS yang paling direkomendasikan)
  • 2 atau 3 surat rekomendasi
  • statement of purpose/esai terkait

 Syarat skor sertifikat TOEFL/IELTS-nya berapa?

Skor TOEFL/IELTS tergantung jurusan dan universitas tujuan. Note: setelah 17 April 2014, UK Visas and Imigration sudah menolak TOEFL sebagai salah satu sertifikat kualifikasi Bahasa Inggris yang diterima. Sebagai pertimbangan, ini syarat skor minimal dari UCL untuk jurusan-jurusan tertentu.

Standard level: Overall grade of 6.5 with a minimum of 6.0 in each of the subtests. (for Engineering Sciences, Built Environment,

Good level: Overall grade of 7.0 with a minimum of 6.0 in each of the subtests (Management, Psychology, Life Science, Economics, Statistics, European Studies)

Advanced level: Overall grade of 7.5 with a minimum of 6.5 in is each of the subtests (Arts and Humanities, Law, Medical School, History, Language)

Untuk perbandingan skor TOEFL dan IETLS, bisa dilihat di sini  

Surat rekomendasi dari siapa?

Sebaiknya dari dosen yang telah mengenal kita secara akademik, seperti dosen pembimbing, dosen yang pernah dibantu riset, atau Ketua Jurusan/Departemen. Akan lebih baik jika dosen tersebut memiliki reputasi nasional/internasional, contohnya Ketua Pusat Kajian atau Rektor.

 Saya sudah memenuhi syarat, lalu untuk daftarnya bagaimana?

Sebagian besar universitas sudah menerapkan pendaftaran online. Cek halaman admission atau saat kita ke halaman web jurusan/departemen yang kita tuju, ada button untuk “Apply”. Di situ biasanya kita akan diarahkan untuk membuat akun pendaftaran dan memulai tahap-tahap aplikasi yang harus dipenuhi, seperti upload dokumen-dokumen, dll.

Admission Page Portland State University, A.S.
Admission Page Portland State University, A.S.

 Apa itu admission fee?

Sebagai proses administrasi, biasanya kita diminta untuk membayar admission fee atau biaya pendaftaran sebesar 50-100 USD atau lebih atau justru gratis tergantung kebijakan universitas tujuan. Jika ada persyaratan demikian, kita diminta untuk melakukan transaksi via kartu kredit. Kalau kita tidak punya kartu kredit (saya juga ga punya XD), kita bisa minta pinjam kartu kredit orang tua, saudara, atau teman yang baik hati. Jangan lupa simpan bukti bayarnya (dikirimkan via email, atau kita screen capture)


Contoh Ketentuan Application Fee University College London
Contoh Ketentuan Application Fee University College London, UK

Kapan kita dapat pengumuman dari aplikasi kita?

Untuk di Inggris biasanya kita sudah bisa dapat decision apakah  kita diterima atau engga setelah 2-6 minggu dari diterimanya aplikasi kita. Untuk di A.S., menurut pengalaman teman-teman bisa lebih lama.  Kita bisa lihat pengumumannya via account yang kita buat di web universitas masing-masing. Nanti kita juga akan dikirimkan versi fisiknya ke alamat rumah masing-masing.

LoA itu apa?

LoA itu singkatan dari Letter of Acceptance, yaitu surat pengumuman bahwa kita diterima di jurusan dan universitas yang kita tuju. Bisa disebut juga Offer Letter, karena sebenarnya kita “ditawarkan” tempat oleh universitas, yang bisa kita tolak, terima, atau tunda untuk tahun ajaran berikutnya (atas alasan tertentu).

 Setelah dapat LoA, lalu apa yang harus dilakukan?

Dalam jangka waktu tertentu kita harus memberikan konfirmasi ke universitas untuk Accept, Reject, atau Defer (tunda) Offer dari universitas tersebut sampai batas waktu tertentu. Setelah kita Accept, kita bisa lanjut ke proses berikutnya sesuai petunjuk dari universitas. Kalau kita daftar ke beberapa universitas dan mendapat offer dari semuanya, pikirkan baik-baik mana universitas yang akan kita Accept. Karena kalau kia sudah Accept, kita sudah selangkah masuk ke universitas itu dan memiliki kewajiban pembayaran dll. Jangan sampai kita malah respon Accept ke banyak universitas yang masa studinya bersamaan, kecuali kita Hermione Granger. Hehe.


Contoh portal untuk Accept/Reject Offer Letter dari Universitas
Contoh portal untuk Accept/Reject Offer Letter dari University of Sussex, UK


  • Semua informasi ini bersifat umum, silakan cek kembali website universitas untuk informasi spesifik.
  • Luangkan waktu untuk cari tahu tentang jurusan/universitas yang kita mau karena prosesnya lama.
  • Ada baiknya kita buat list prioritas 3-5 universitas yang kita mau daftar, jadi ada alternatif. Ingat juga dengan konsekuensi biaya pendaftaran yang akan muncul.
  • Harus kerja mandiri, banyak inisiatif untuk cari tahu sendiri untuk penambah wawasan, baru konsultasi ke orang lain. Jangan sampai ada informasi yang terlewat.

Semoga berhasil! Cheers xoxo