Tag Archives: indonesian press

Indonesia (seharusnya suka) Memuji!


Masyarakat Indonesia semakin hari semakin memuji orang-orang sekelilingnya secara apresiatif-konstruktif. Kita suka sekali mengkritik dan menghujat, apalagi kalo objeknya adalah orang lain. Kebiasaan itu mengakar di kalangan orang biasa, di kalangan akademisi, bahkan forum-forum diskusi. Mungkin familiar bagi kita jika ada presentasi dari teman kita di kelas, ada sesi “tanya jawab” yang isinya penuh kritik dan debat yang menjatuhkan. Coba perhatikan koran, TV, atau media massa mainstream lainnyakabar baik jarang sekali jadi topik utama di halaman pertama ataupun slot berita paling awal.

Lahir dan dibesarkan dengan kultur masyarakat yang seperti ini, membuat Indah pribadi, sebagai anak muda, kaget, ketika memiliki kesempatan belajar ke luar negeri, salah satunya ke Amerika Serikat. Mengerjakan tugas-tugas kuliah dan proyek community service membuat Indah sering dibanjiri pujian oleh dosen, supervisor proyek, host family, bahkan guest speaker yang datang ke kampus Indah waktu itu. Indah heran sendiri, ada apa sih ini?! Mengapa Indah sering sekali dipuji di sini? Bahkan Indah tidak merasa puas saat evaluasi tertulis atas esai Indah isinya pujian semua, seperti

“Thanks Indah, I really enjoy reading your essay. I learn a lot about Indonesian press from your writing..”

Indah sampai bertanya-tanya, apa ini semuanya di-setting? Apa Indah terlalu remeh untuk dikritik secara profesional jadi lebih baik terus dipuji biar tidak “menangis”, seperti anak kecil yang selalu dikasih tepuk tangan setiap kali bisa lempar bola?

"Pat on the Back"
“Pat on the Back” tanda suportif

Ha? Jahat kan pikiran Indah? Mau tidak mau, Indah adalah anak muda yang menjadi korban kultur kritik-mengkritik, sampai-sampai pujian pun dianggap konspirasi. Hahaha.. Di lingkungan akademik Amerika, mereka memang selalu dimotivasi untuk bertanya, berkarya, berkreasi, dan semua itu diapresiasi. Bahkan jika jawaban Indah dari pertanyaan diskusi itu terasa crappy (baca: nyampah) bagi Indah sendiri, dosen bakal bilang, “That’s absolutely right, Indah. I like your point! Anyone wants to add Indah’s statement?” Beliau menyemangati Indah dan bahkan terus mengajak orang lain untuk mengungkapkan pendapatnya. Dan budaya saling apresiasi tersebut meluber sampai ke kehidupan sosial politik mereka. People still protest, though, and others still appreciate anyone’s thoughts and position.

Di saat-saat akhir masa belajar di S1 seperti ini, ketika Indah sedang susah payah menyusun penelitian akhir (baca: skripsi), Indah merindukan tepukan suportif di bahu dan sekadar pernyataan,“I know you can finish it, and then graduate by the end of this semester. You have accomplished beyond amazing during your four year of study. If you can make it there, you make it anywhere”. Di dalam kosakata Bahasa Inggris, untuk budaya suportif ini ada istilah “pat on the back” atau menepuk di bahu tanda mendukung.

Mungkin Indah diberikan anugrah untuk telah mencapai banyak hal selama kuliah ini, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya yang telah diberikan. Tapi, Indah tetaplah anak muda yang sedang tumbuh kembang dan membutuhkan lingkungan suportif untuk menghadapi salah satu tantangan tersulit di akhir masa kuliahnya. Yang Indah dapatkan justru semakin banyak orang yang bikin insecure dan mengkritik tidak membangun. Berapa kali Indah harus merasa sangat down dalam proses ini.

Well, jika Indah tidak dapat banyak mengubah lingkungan…

if society tends to knock me down to learn a lesson, then I will bounce back higher. 

Indah mengatakan ini karena Indah tidak ingin terbawa arus lingkaran kritik-mengkritik yang berujung pada discouraging community and generation. Yuk kita berkontribusi mencerahkan masyarakat kita dan menjadi orang pertama yang apresiatif  terhadap diri sendiri dan orang lain. 😀