Category Archives: Travel in Infinity

6 Tips Backpacking ala Cewek


Untuk cewek yang suka travelling dan foto-foto, ga gampang =backpacking yang super budget dan simpel. Ga seperti cowok yang bajunya bisa kaos oblong terus-terusan, cewek perlu bawa berlapis-lapis baju (apalagi yang pake jilbab yak), make up, payung, obat-obatan dll. Apalagi kalau lagi “datang bulan” dan/atau ke tempat yang lagi musim dingin!

Pengalaman beberapa kali jalan dengan biaya minimal dan cuma bermodal satu tas challenging banget, tapi seru! Ini dia tips-tipsnya:

1. Packing

Ini dia yang paling esensial. Bawa tas ransel ukuran kabin (kalau naik pesawat) dan/atau tas tangan. Harus pintar memilih baju yang bahannya ringan dan/atau ga cepat kusut. Recommended bawa blouse tipis, cardigan, kaos, dan kemeja. Pack baju seperti sandwich satu hari (misalnya kaos, pakaian dalam, pantyliner, dan kerudung) terus digulung dan diikat pakai karet gelang. Maknyus untuk ngehemat ruang tas dan ga berantakan.

travel light, pack light
travel light, pack light

Pikirkan juga untuk laundry  di tengah perjalanan. Jadi untuk 10 hari cuma bawa 5 gulung baju. 5 hari berikutnya ya pake baju itu lagi yang udah dicuci. Banyak mesin cuci yang langsung kering dan pilih bahan baju yang ga perlu disetrika (seperti katun) jadi skip step ngejemur dan nyetrika. Untuk kerudung, kadang sulit pilih bahan yang ga kusut, tipsnya bawa aja kerudungnya 10 biji untuk 10 hari. Damai 😀

Semua toiletries dan skincare pindahin semua ke botol atau jar kecil yang kurang dari 100ml atau bahkan 50ml. Bawa makeup yang kecil dan mudah aplikasinya, eyeshadow stick atau cream blush, jadi ga perlu pakai kuas. Make up remover juga pakai yang bentuk tisu kecil aja, jadi ga perlu bawa botol dan kapas.

2. Jalan-jalan dan Keamanan

Realistis aja, ga mungkin backpacknya dibawa terus kemana-mana kan? 😀 Jadi manfaatin jasa titip tas atau loker di stasiun atau hostel dan bawa seperlunya aja untuk jalan dengan tas tangan. Biayanya ga terlalu mahal dan bikin jalan lebih ringan.

tiket titip tas di salah satu stasiun di perancis
tiket titip tas di salah satu stasiun di perancis

Untuk tempat yang rawan, ada juga yang nyaranin ga perlu bawa dompet, jadi bawa uangnya aja taruh di kantung jaket misalnya, ga di tas tangan barangkali kecopet. Sama halnya dengan paspor atau kartu identitas lainnya, tinggalin aja di loker yang kekunci. Jadi di tas tangan ceweknya cuma isi payung, air minum, tisu, hand sanitizer, dan perintilan lain ala cewek.

3. Tempat Tinggal

Nebeng! Untuk mahasiswa yang punya banyak teman di dalam dan luar negeri, jangan malu untuk nebeng di tempat temen, meskipun cuma buat tidur di sofa ataupun kasur anginnya. Hemat biaya tempat tinggal berlipat-lipat. Jangan lupa courtesy soal jam pulang misalnya, atau bawa oleh-oleh dari tempat asal.

Pilihan lainnya adalah hostel. Jangan ragu untuk sharing kamar dengan yang lain, nambah kenalan. Hostel juga punya fasilitas shared kitchen dan laundry, yang oke banget untuk backpackers. Tips: siapin detergen barangkali laundry-nya ga punya detergen.

4. Makanan

Masak bareng di rumah temen emang paling asik
Masak bareng di rumah temen emang paling asik

Selain cobain makanan khas tempat tujuan, bisa juga beli makanan setengah jadi di supermarket yang gampang diangetin di microwave yang ada di hostel atau masak sekalian! Sebelum belanja bahan masakan, cek di tempat tinggal ada peralatan apa aja (baik nebeng tempat temen ataupun hostel) dan sesuain masakannya. Ada yang nyaranin juga bawa abon atau rendang yang udah dipaket gitu (jadi bisa lewat imigrasi), jadi enak buat dimakan pakai roti atau apapun yang kepikiran.

5. Foto

Selalu photoready dengan pocket camera di kantong
Selalu photoready dengan pocket camera di kantong

Kamera DSLR emang oke buat foto, tapi ukurannya cukup bikin repot kalau lagi travelling ala backpacking. Jadi lebih baik pakai kamera digital yang bener-bener ukuran pocket jadi bisa masuk kantong. Siap capture momen-momen ga terduga dengan cepat juga. Ada juga tripod super mini favorit Indah dari Daiso yang ada di tas atau tongsis lah kalo mau. Selain itu, kamera pocket mudah dibawa untuk kegiatan outdoor, seperti hiking ataupun naik sepeda.

6. Lain-lain

Kalau memang “tanggalnya”, siapin bawa pembalut secukupnya, sisanya bisa beli di supermarket di tempat tujuan. Bawa potongan-potongan kecil obat penting kaya paracetamol, obat maag, flu, dan obat masuk angin! Jalan-jalan kan ya, angin dimana-mana… (pengalaman). Bawa juga gembok untuk backpack nya, sama goody bag yang bisa dilipet.

that is what friends are for
that is what friends are for

Ada saran lagi? Atau ada pengalaman seru pas backpacking? Komentar di bawah ya!

Warung Padang London: Kisah Diaspora Indonesia di Inggris


Siapa sangka bisa makan baso, batagor, nasi padang murah meriah di London? Untuk mahasiswa perantauan yang masak tiap hari, Indah salut sama Aa Firdaus  yang jago masak dan bisnis makanan Indonesia di Inggris!

Cerita ini harusnya ditulis jadi esai untuk tugas S2 di UCL. Indah mau tulis housing story tentang seorang diaspora Indonesia di Inggris ini untuk tugas Housing Policy, Programmes, and Project Alternatives. Beberapa kali makan di sana dan dikasih inspirasi sama Ami, sang bestie dan housemate, untuk wawancara Aa untuk tugas  ini. Warung Padang London ini sering muncul di berita, salah satunya ditulis dalam artikel oleh Andi Mallarangeng tahun 2014 lalu tentang diaspora Indonesia. Banyak artis Indonesia yang mampir ke sana kalau sedang berkunjung ke Inggris. Karena Indah gatel sharing, jadinya nulis di Pusparaniology juga.

Housing Story dedicated to Aa Firdaus Bustamam
Housing Story dedicated to Aa Firdaus Bustamam

Namanya Firdaus Bustamam, sering eh selalu disapa “Aa”. Aa  ini pemilik warung dan supermarket Indonesia yang dikenal dengan nama “Warung Padang London” di daerah Chinatown, Leicester Square. Setiap kali datang ke sana, selalu disapa dengan super ramah kayak udah kenal lama, “Hey apa kabar Mba Indah! Makan makan sini!” Kalo datang sama teman yang baru ke situ ditanya, “Baru ya di London? Apa dari Indonesia? Oh dari Birmingham, saya juga lama di sana. Rumahnya di mana?” Dan begitu lancarnya Aa ngobrol dengan setiap pelanggannya. Banyak orang non-Indonesia yang ke sana. Salah satu pelanggan orang Belanda kemarin malah bilang, “A, tambah sambal!” Hohoho…

"Aa" Firdaus Bustamam, sang pengusaha makanan Indonesia di Inggris
“Aa” Firdaus Bustamam, sang pengusaha makanan Indonesia di Inggris

Aa cerita pertama kali datang ke Inggris Januari 1997, bersama istri yang mau MBA di University of Wolverhampton. Berbekal kenalan dari mailing list jaman itu, Aa memulai kehidupan sebagai diaspora Indonesia di luar negeri. Bisnisnya mulai dengan membuka supermarket oriental di Wolverhampton dan Birmingham, jadi salah satu yang pertama menjual makanan Indonesia di Inggris.

Alhamdulillah yak Aa udah punya warungnya di London juga pas Indah dateng tahun lalu, jadi tempat ngelayab makan nasi padang kalo kangen. Aa juga jual baso, soto, batagor, tempe, cendol, ikan teri… kalo lagi kepikiran yang aneh-aneh, bisa pre-order juga loh. Dasyaaat. Indah sendiri bawa pulang baso 30 butir untuk makan di rumah. Hahaha…

Berbagai macam makanan di Warung Padang London
Berbagai macam makanan di Warung Padang London

“Warung Padang London” ini rasanya homey banget. Sambil masak dibantu Mas Fitrah, sang asisten, dia ngobrol dan banyak bercanda dengan pelanggannya. Kemarin kebetulan wawancara sampai warung tutup, banyak pelanggannya yang nongkrong sambil main gitar atau sekedar cari-cari koyo dan kayu putih. Berasa bener-bener di “warung” ala Indonesia.

IMG_1586

Kalau ditanya rencana ke depannya apa, Aa bilang dia mau buka cafe Indonesia (lagi) di daerah London sama partnernya. “Kita harus memperluas budaya Indonesia supaya orang lokal kenal budaya Indonesia!”

Luar biasa. Salah satu kisah inspiratif lagi dari diaspora Indonesia di dunia!

Pengalaman Magang di Houses of Parliament UK


Karena ga boleh foto sendiri, Indah tunjukin foto dari media yang udah dipublish. Waktu Indah dateng kemarin kosong ko ruangannya. Hehe
House of Lords. Karena ga boleh foto sendiri, Indah tunjukin foto dari media yang udah dipublish. Waktu Indah dateng kemarin kosong ko ruangannya. Hehe (credits: Huffington Post)

Minggu lalu, Indah post pengalaman hari pertama magang di Houses of Parliament UK dan janji akan post cerita lebih lengkapnya. Mudah-mudahan bisa terus saling berbagi 🙂

Kesan pertama dari kerja di Houses of Parliament UK adalah sekuriti-nya yang ketat banget. Briefing minggu sebelumnya dikasih tau apa yang ga boleh di bawa, kegiatan atau ruangan apa aja yang boleh difoto, dan sebagainya. Awalnya heran, tapi terus tepok jidat sendiri, ya iyalah, ini salah satu lokasi dengan standar keamanan tertinggi, selain U.S. Capitol atau White House. Gedung Houses of Parliament, atau yang lebih dikenal dengan Palace of Westminster atau Big Ben dibangun pada zaman Queen Victoria tahun 1840 setelah hancur dalam kebakaran besar. Hall of Westminster, ruangan tertuanya selamat sejak pertama dibangun tahun 1016.

Hall of Westminster, ruangan paling tua di Houses of Parliament. Sekarang untuk keperluan publik.
Hall of Westminster, ruangan paling tua di Houses of Parliament. Sedang banyak proyek pemeliharaan dan terbuka untuk publik.

Tugas Indah kemarin banyak terlibat di Commonwealth Parliament Association, organizing International Parliamentary Conference “The Growth for Development: The Role of Parliamentarians in Managing Economic Growth for Equitable Development” yang berlangsung selama seminggu. Anggota parlemen dari berbagai negara persemakmuran dan non-persemakmuran berdiskusi tentang isu-isu tentang pembangunan berkelanjutan, kebangkitan ekonomi Asia, sampai tentang transparansi. Fasilitator dan speaker-nya mulai dari Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian dan pendiri Grameen Bank, Jeffrey Sachs, Special Adviser to UN Secretary General Ban Ki Moon untuk MDGs, sampai Dr. David Hudson, akademisi Dr David Hudson dari School of Public Policy UCL.

Commonwealth Parliament Association Office
Commonwealth Parliament Association Office

Selain itu, kita ada private tour keliling parlemen, dapat akses ke ruangan-ruangan House of Lords, House of Commons, sampai ruang ganti Ratu sebelum pidato kenegaraan. Sayangnya semua ruangan itu ga boleh difoto, tapi luar biasa bersyukur bisa jadi saksi hidup dan belajar langsung dari tempatnya. Selama di sana, semua pelajaran tentang sistem politik yang dipelajari sejak SMA rasanya “crystal clear”, like I am seeing with the new eyes.

Beberapa sesama mahasiswa UCL dan intern di Houses of Parliament. Thanks to Obaa Akua (Ghana), Sheena Li (Canada) :D
Beberapa sesama mahasiswa UCL dan intern di Houses of Parliament. Thanks to Obaa Akua (Ghana), Sheena Li (Canada) 😀

Sebagai mahasiswa S2 Development Administration and Planning, kesempatan belajar sambil magang di Houses of Parliament sangat berharga. Kita dihadapkan dengan kenyataan, tentang hambatan kebijakan-kebijakan pembangunan yang dihadapi para anggota parlemen di negara-negara lain, tentang kesempatan dari kerjasama, dan juga passion dari mereka-mereka untuk terus mendorong perubahan di negara masing-masing.

Salah satu sesi diskusi dalam International Parliamentary Conference
Salah satu sesi diskusi dalam International Parliamentary Conference

Pastinya pengalaman ini membuat pengalaman S2 Indah makin kaya, dan mudah-mudahan makin bijak dalam belajar dinamika pembangunan (cieeh). Terima kasih buat semua yang baca blog post ini, semoga sukses di bidang masing-masing! 🙂