Category Archives: Academic

Media Release SUMA UI: Dyah Ayunico R & Indah Gilang P, Pemenang Harvard World Model United Nation


Pada tanggal 14-18 Maret 2011 lalu, dua mahasiswi Universitas Indonesia untuk pertama kalinyameraih “Best Diplomacy Award” dalam ajang Harvard World Model United Nation. Penghargaan tersebut diberikan kepada delegasi yang dianggap merepresentasikan semangat diplomasi dan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Mereka adalah Dyah Ayunico Ramadhani dan Indah Gilang Pusparani. Keduanya adalah mahasiswi Hubungan Internasional, FISIP UI. Acara bergengsi tersebut dihadiri oleh 2.255 delegasi 266 universitas  dari seluruh dunia dan dibagi dalam 23 komite.

Indah Gilang Pusparani and Dyah Ayunico Ramadhani
"Diplomacy Award" in Harvard Model United Nations

Dyah Ayunico Ramadhani, biasa  dipanggil Dhacil, adalah  mahasiswi angkatan 2007 yang pernah meraih predikat sebagai Mahasiwa Berprestasi (Mapres)  II FISIP 2010. Selain sedang disibukkan menyusun skripsi, kini ia juga menjadi Asisten Dosen (Asdos) untuk mata kuliah Diplomasi Indonesia dan juga menjadi Coach di English Debating Student.

Prinsip hidup “Enjoy your life without wasting it” telah menghantarkannya meraih banyak prestasi, seperti Quarterfinalist of World University Debating Championship Botswana 2011(WUDC) in the English as Second Language Category in University of Botswana, Africa, Indonesian Representative for DENSO Youth for Earth Action 2010 in Aichi prefecture, Japan, diselenggarakan oleh DENSO Corporation dan puluhan prestasi lainnya..

Mahasiswi kelahiran Jakarta, 20 April 1990 ini sangat  tertarik dalam bidang ekonomi politik internasional dan berkeinginan untuk dapat bekerja di Perserikatan Bangsa Bangsa agar dapat terlibat dalam pembangunan dunia internasional. “Saya ingin membantu siapapun dan dimanapun tanpa memperhatikan status kewarganegaraannya.” Ungkapnya.

Selain Dyah, ada juga seseorang yang turut mengharumkan Indonesia di ajang tersebut, yaitu Indah Gilang Pusparani. Dalam Harvard World MUN, Indah berperan sebagai delegasi dari negara Oman. Disana, Indah harus berdiplomasi dan bersaing dengan lebih dari 130 delegasi lain dari seluruh dunia dalam membahas isu hambatan perdagangan komoditas pertanian.

Mahasiswi yang lahir di Cirebon, 22 Februari 1991 ini kini selain menjalani aktivitas sebagai mahasiwa juga sedang ‘menjabat’ sebagai Deputy Manager of R&D di Indonesian Student Association For international Studies (ISAFIS). Mahasiswi Hubungan Internasional angkatan 2009 yang tertarik dengan ekonomi politik internasional ini akan mengikuti student exchange ke Amerika Serikat selama bulan Juni-Agustus 2011 nanti untuk subjek New Media Politics. Untuk kedepannya, Indah yang juga pernah menjadi wakil PO Olimpiade Ilmiah Sosial (OIS) 2010 ini bercita-cita untuk dapat berkontribusi dalam menyusun rekomendasi kebijakan-kebijakan di pemerintahan dan berkiprah dibidang keilmuan sebagai pemikir dan analis.

Azzahra Ulya

 Source: Badan Otonom Pers “Suara Mahasiswa Universitas Indonesia”

Magical Moment: Diplomacy Award in Harvard World Model United Nations


Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, dua mahasiswa Universitas Indonesia, Indah Gilang Pusparani (Hubungan Internasional 2009) dan Dyah Ayunico Ramadhani (Hubungan Internasional 2007)  meraih penghargaan “Diplomacy Award” dalam Harvard World Model United Nations Singapore (WorldMUN) 2011 yang diadakan di Singapura pada 14-18 Maret 2011.

Diplomacy Award WorldMUN Singapore 2011

Alhamdulillah…Indah punya kesempatan untuk membanggakan Indonesia di forum dunia. WorldMUN merupakan simulasi sidang Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) terbesar dan paling prestisius yang dilaksanakan secara rutin oleh Harvard University di negara yang berbeda-beda bekerjasama dengan universitas tuan rumah. Tahun ini, Harvard University bekerjasama dengan National University of Singapore untuk mengundang lebih dari 2200 delegasi, 65 negara, dan 270 universitas dari seleuruh dunia yang dibagi dalam 23 komite PBB. Indah sendiri jadi delegasi dari Indonesia Student Association for International Studies (ISAFIS), mewakili negara Oman di World Trade Organization.

Ngapain aja di sana?

Simply, I act like a diplomat dalam sebuah sidang resmi PBB dengan menggunakan Rules and Procedure dari PBB. Rules and Procedure itu termasuk prosedur untuk moderated and unmoderated caucus, agenda setting, voting, working paper, draft resolution, dan resolution. Di WorldMUN 2011 kemarin, Indah mewakili Oman di WTO untuk membahas dua topic area: Agriculture and Trade Barriers dan Currency Manipulation. Dalam sebuah debat resmi, para delegasi berdebat mengenai topik mana yang harus didiskusikan mengingat urgensi masalah, efeknya terhadap negara-negara anggota, dan kemungkinan ditelurkannya (?) resolusi. Oman sendiri terkena dampak dari kedua masalah ini, tapi  prefer mengenai Agriculture and Trade Barriers karena terlalu banyak kepentingan negara besar (khususnya Amerika Serikat dan China) untuk topik Currency Manipulation.

Keseluruhan Committee Session berjumlah 6 sesi, dari hari Selasa sampai Jum’at (13-14 Maret 2011). Lots of debate, tons of negotiations, discussion here and there, intinya berusaha agar kepentingan negara Oman di WTO tercapai. Sebagai negara kecil di Timur Tengah yang mayoritas penduduknya masih bekerja di bidang pertanian dan memiliki cukup cadangan minyak dunia, Oman harus berani menentang dominasi negara besar yang menginginkan proteksionisme perdagangan. Sejak menjadi anggota WTO pada tahun 2000, Oman telah membuka pasar dalam negerinya lebih luas dari negara-negara yang secara komparatif lebih maju. Maka Indah harus meyakinkan negara-negara yang memiliki posisi yang sama untuk beraliansi dan mendorong terciptanya resolusi bersama untuk pasar bebas yang juga adil.

 

It was really thrilling and challenging untuk meyakinkan orang lain di sana. Personally, ini MUN internasional pertama Indah, meskipun bukan international conference pertama. Indah badannya kecil, sementara orang-orang bule badannya tinggi dan gede. Hahaha… I

WTO Committee Session

‘m not native English speaker.  Lancar sih Bahasa Inggrisnya, tapi ya tetep aja ga sejago delegasi-delegasi yang merupakan native speaker. Yet, I’m not alone. Ada sekitar sepuluh orang Indonesia di komite itu, banyak orang Asia, dan bahkan orang Eropa yang emang mereka berbahasa Jerman, Perancis, Spanyol, atau apapun. So, I witnesed many accents. PEDE AJA! haha..

Bagaimana bisa menang?

Jelas tidaklah mudah untuk memenangkan penghargaan ini karena Indah harus berdiplomasi dan bersaing dengan lebih dari 130 mahasiswa di dunia dalam membahas isu hambatan perdagangan komoditas pertanian. Dalam komite untuk delegasi tunggal tersebut, Indah harus terlibat langsung dalam keseluruhan simulasi pengambilan kebijakan dan negosisasi di tingkat global mengikuti prosedur PBB. Caranya biar bisa jadi yang menonjol di sana adalah banyak latihan simulasi diplomasi! Thanks to ISAFIS, karena di sana Indah belajar banyak tentang MUN, termasuk simulasi langsungnya setiap tahun. Untuk mahasiswa UI, ada yang namanya UI MUN CLUB, tempat semua mahasiswa bisa belajar MUN dan ikut simulasinya setiap bulan. UI MUN CLUB juga biasa buat delegasi untuk MUN internasional, buat latihan intensif untuk delegasi, termasuk hal-hal teknis buat working paper, belajar drafting, termasuk amandemen.

Hal-hal teknis itu mungkin yang Indah perlu pelajari lebih jauh karena memang belajar diplomasi merupakan a life time process. Yang Indah lakukan di sana adalah jadi diplomat yang baik. Meskipun belum terlalu menguasai hal-hal teknis, I feel the spirit of MUN and exemplify the true spirit of diplomacy!

With The Chair and Fellow Delegates

Master our country position in particular topic area we are debating. Adhere strongly to our country position and interest and be committed to the alliance you make through a long negotiation. Be creative in initiating a collective solution, as well as be open to a new perspective and solutions as proposed in the committee. Whether you are big or small country, be bold and confident so as people can be persuaded and agreed to your points. Do not forget to ask fellows to share experiences, diplomacy is a long life process!


 

 

Me in Barack Obama Public Lecture: Proud to be an Indonesian


It is an honorable opportunity to be the invited guest from Indonesia Student Association for International Studies (ISAFIS) in Barack Obama Public Lecture in Indonesia today. My campus has been chosen as the academic institution to cordially welcome The President of United States in the first largest Muslim populated country.

 

He started his speech this morning by greeting to all of Indonesia and saying that Indonesia is a part of his life, a personal individual, and as The President of United States. He appraised Indonesia’s value of tolerance, peaceful democracy, and equality amongst the diversity of its people.

 

What I  noted from his speech is that he highlighted on development, democracy, and diversity  in Indonesia. He said Indonesia and America are engaging comprehensive partnership in all level, scope, and spectrum. Both Indonesia and America have stake to each other development: Indonesia as the emerging  market in Asia Pacific and America as the standing economic power. The growing middle class in Indonesia is a potential market for American goods as well as a n alluring investment place. He hoped that more and more people of Indonesia could go to American school along with the more people of America to learn of Indonesia and gain more intercontinental understanding.

 

Further, he address that unlike in other country, development and democratization are reinforcing one another. He said Indonesia has experience a lengthy journey of democratization back from more that fifty years ago. He remembered about the struggle of Indonesian heroes to strive for independence, student activism in 1960s and 1999, and the peace power transition through a general election since 2004. He admitted that now Indonesia is a powerful democratic country in the world and continuing its leading initiatives  in democracy.

 

The last thing is what I really grateful to be an Indonesian. I surely do not need Barack Obama to tell that Indonesia is a very amazing country with its diversity. People with different religions, ethnics group, traditional language can stand side by side and reinforce togetherness to establish a sustainable development. its openness of press, embracement of people aspiration, and inclusiveness are the shared values across the archipelago. And I feel this much clearer when I have personal experience to travel to another country and to feel that “Thanks God, I am Indonesian!”

 

This would be a memorable day for the rest of my life. I still can hardly believe that Barack Obama was right in front of me and addressing the word that shook the world instead of watching his video sharing for universal hope of change. He once again ignited me to learn more and work hard my country. I should finish my study in Indonesia to deepen my basic of nationalities and let me study abroad to broadening my horizon. This is the time for me to take the pillar of my generation. Yes, Sir, yes we can. See you in America!