#2 Pemimpin itu Berani Besar


Galau.

Itulah hal wajar yang  pertama kali  dirasakan ketika mendapat tanggung jawab besar.

Apa respon kita? Mereka yang berani memimpin adalah orang yang berani menerima tanggung jawab itu,  berani berpikir lebih luas, berani berwibawa,  berani menjadi menjadi orang yang memiliki jawaban ketika ditanya, dan berani memutuskan.

To Lead, Be Somebody
To Lead, Be Somebody

Adalah hal wajar yang bikin kita  galau ketika kita terbiasa mengaggumi orang yang menjadi pemimpin, pada akhirnya kita yang menjadi orang “yang biasa kita lihat”. “Sekarang giliran gue ya? Gue  jadi seperti dia ya sekarang?”

Bersiaplah  menjadi besar. Ketika itu menjadi giliran kita, diamlah sejenak,tarik nafas dalam, dan katakan “oke gue bisa . Gue siap. Gue memang layak.”

Banyak hal yang berubah ketika kita pada akhirnya menerima tampuk kepemimpinan tersebut. Kalau kita terbiasa “execute” dan berusaha mengerjakan tugas dengan sangat baik, sekarang kita justru harus merancang apa saja yang harus dikerjakan. Kalau kita terbiasa mengerjakan tugas detail teknis, sekarang justru kita yang harus berhadapan dengan Direktorat suatu Kementrian, misalnya, melakukan lobi agar kegiatan kita didukung pemerintah atau pihak universitas. Ketika kita terbiasa diingatkan untuk mengerjakan tugas sesuai deadline, tugas kita sebagai pemimpin adalah justru menentukan timeline, deadline, dan memastikan tim kita berjalan sesuai rencana yang telah kita buat. Kita akhirnya yang menandatangani sebuah surat perjanjian, menjadi orang yang memegang tanggung jawab penuh atas konsekuensi perjanjian tersebut. Kita akhirnya yang berdiri di depan dan  memberi sambutan. Kitalah yang akhirnya harus berani mengakui kesalahan ketika akhirnya proyek kita gagal!

Tanggung jawab besar membutuhkan pikiran besar dan jiwa yang besar. Siap untuk berkembang?

Ketika kita galau dan ragu dengan kemampuan kita, tertawalah dan making joke of it.

Inilah saatnya kita memiliki kebebasan penuh untuk merancang “dunia” seperti yang kita inginkan. Kita lah akhirnya yang pegang kendali, buat dikendalikan. Warna diri kita lah yang akhirnya menjadi nyawa organisasi ini!

Refaldo Fanther pernah suatu kali mengatakan, menjadi pemimpin adalah suatu pilihan: apakah kita mau meningkatkan taraf hidup kita apa tidak, apakah kita berani besar apa tidak. Banyak orang yang lebih nyaman untuk menjadi orang yang selalu dipimpin, tidak mau berpikir, dan tidak mau repot. Banyak orang yang tidak siap untuk menjadi besar karena menjadi besar butuh proses panjang, bukan sekedar tentang hasil semata. Menjadi pemimpin adalah berada di luar zona kenyamanan dan itulah yang membuat kita menjadi besar.

Hey leaders, ready to be SOMEBODY?

6 thoughts on “#2 Pemimpin itu Berani Besar”

  1. oh my goodness^^
    totally right, jika ada orang bilang pada pemimpinnya “dia sih gampang, tinggal ngatur-ngatur dan nyuruh-nyuruh aja”.

    cobalah menjadi orang yang merancang semuanya, baik mengatur dan memberi amanah kepada bawahan. barulah tau gimana rasanya menjadi seorang pemimpin.

  2. @Refaldo memang, engga ngerti orang yang melihat “kepemimpinan” lebih sebagai sebuah jabatan kekuasaan, bukan tanggung jawab yang harus dipegang secara amanah.

    @Haris yeah, sure Haris! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s